[Ulasan] Buku Perang Napoleon di Jawa 1811 : Menangkap Kembali Sejarah Perang yang Terlupakan

 


Ulasan Buku : Perang Napoleon di Jawa 1811


Judul Buku : Perang Napoleon di Jawa 1811 Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Jan Willem Janssens

o Penulis : Jean Rocher

o Genre : Fiksi Sejarah

o Penerbit : Penerbit Buku Kompas

o Penilaian :     (4/5)

Pendahuluan

    Buku ini bukan sekadar novel sejarah  biasa, tetapi juga mengungkap kisah peperangan yang terlewatkan dari ingatan semua orang, baik di Eropa maupun di Indonesia sendiri. 

Banyak yang tidak menyadari bahwa dulu Napoleon pernah menguasai Pulau Jawa. Melalui penulisan yang mendalam, Jean Rocher berhasil membawa pembaca kembali berada di Pulau Jawa tahun 1811. 

Novel yang disajikan dari sudut pandang penjajah ini mampu menghidupkan sisi manusiawi yang dihadapi pasukan kolonial baik dari pihak Perancis-Belanda maupun dari pihak Inggris.



Ringkasan Buku

    Kisah ini  terjadi sebagai dampak dari situasi peperangan yang terjadi di Eropa, di mana Napoleon berhasil menaklukkan Kerajaan Belanda. Hal tersebut membuat wilayah-wilayah koloni Belanda pun ikut jatuh ke tangan Perancis, salah satunya Pulau Jawa.

Napoleon pun menunjuk Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Jawa, dengan satu tugas utama yaitu mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman Inggris.

Daendels berusaha mempertahankan Pulau Jawa dengan membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg) dan melakukan reformasi militer dan administrasi.

Sebelum pasukan Inggris menyerang, Napoleon memanggil Daendels kembali ke Eropa  dan menggantinya dengan Jan Willem Janssens pada pertengahan tahun 1811. 

Meskipun Daendels  sudah mempersiapkan penggantinya untuk sigap menghadapi pasukan Inggris, ia tetap meninggalkan pasukan militer yang rapuh dan mengalami demoralisasi pada Jan Willem Janssens.

Beberapa bulan setelah kapal pasukan Jan Willem Janssens mendarat di Pulau Jawa, pasukan Inggris yang dipimpin Sir Samuel Auchmuty (atas perintah Gubernur Jenderal Britania Raya yaitu Lord Minto) juga mendarat  di Batavia. 

Bab demi bab buku ini menceritakan bagaimana pergolakan mental pasukan Perancis dan Inggris dalam menghadapi perang yang berakhir dengan singkat itu. Penulis membeberkan bagaimana sebenarnya pihak Perancis masih punya kesempatan untuk menang melawan pasukan Inggris.


Kesimpulan dan Rekomendasi

    Buku ini direkomendasikan menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin lebih mendalami bagaimana posisi Indonesia dalam perubahan geopolitik dunia. Dalam buku ini kita akan mendapatkan penggambaran fakta sejarah yang utuh, objektif dan kaya.

    Dalam konteks pendidikan metode Charlotte Mason, menurut saya buku ini termasuk Living Book karena penulis menyajikan narasi yang sangat sesuai dengan passionnya pada sejarah. 

Bahkan pengantarnya juga diberikan oleh salah satu ahli sejarah Indonesia Profesor Asvi Warman Adam. 

Dalam pengantarnya Prof Asvi memberikan sedikit gambaran tentang latar belakang penulis yang sejak lama mendalami Bahasa Indonesia dan Sejarah Perancis-Indonesia.

 Penulisan dan penerjemahan buku ini termasuk naratif dan sastrawi, buku ini tidak menghidangkan Sejarah Jawa tahun 1811 secara kaku, melainkan dikemas dalam bentuk fiksi yang kaya pengetahuan sejarah. 

Alur ceritanya memang agak pelan di bagian awal, tetapi di bagian tengah ceritanya begitu mengalir dan seru untuk dibaca. 

 Gaya bahasanya mengalir dengan baik, membuat pembaca bisa dengan mudah memvisualisasikan apa yang digambarkan penulis secara jernih.

    Buku ini akan membawa kita masuk ke dalam dinamika kehidupan manusia di masa kolonial.  Intrik, politik, strategi militer hingga persaingan antara 3 koloni yaitu Perancis, Belanda dan Inggris menjadi unsur penting dalam ceritanya. Selain itu  penyajian sudut pandang yang beragam membuat kita juga diajak berempati dan memandang kisah peperangan ini dengan lebih objektif.

    Bagian yang menarik adalah bagaimana kuatnya tekad dan beratnya perjuangan selama perjalanan para prajurit yang dibawa Jenderal Jan Willem Janssens untuk bisa sampai ke Pulau Jawa dari Perancis. Ini memantik kita sebagai bangsa Indonesia yang membaca lebih berempati pada  prajurit-prajurit bangsa kolonial (para penjajah), ternyata untuk bisa sampai ke Indonesia perjuangan mereka juga tidak mudah.


    Selain nilai-nilai negatif yang bisa dilihat dari kepribadian Jenderal Jan Willem Janssens (yang membuat greget),  kita juga akan melihat nilai kebaikan yaitu sikap patriotisme yang ditunjukkan oleh perwira Perancis maupun Inggris selama perang berlangsung. 


    Sebagai catatan tambahan, buku ini cocok dibaca oleh remaja berusia 15 tahun ke atas atau Form 3-4 dalam metode Charlotte Mason. Selain itu bacaan buku ini akan lebih utuh jika sebelumnya pembaca sudah punya gambaran tentang sepak terjang Daendels di Pulau Jawa. Anak usia di bawah 15 tahun kurang disarankan membaca sendiri kecuali didampingi orang tua, karena ada bagian-bagian yang bisa memantik anak untuk mencari tahu terkait hal-hal negatif yang ada pada masa itu.

Adapun kekurangan buku ini adalah penulisan dialognya yang tidak jelas membuat pembaca bingung menentukan dialognya perkataan dari tokoh yang mana. Tapi secara garis besar buku ini bagus untuk dibaca sebagai pengayaan materi sejarah yang membawa ide-ide hidup.


Batavia, 29 Oktober 2026

#kurasiLivingBook






Posting Komentar

0 Komentar