Mengapa Aku Masih Terus Menulis?

          Dulu jaman sekolah, menulis bagi saya adalah sebuah hal menyenangkan dan membuat lupa waktu sekaligus lega bisa menyalurkan ganjalan-ganjalan hati. Tetapi menulis tidak terlalu saya dalami saat itu, karena merasa tidak ada manfaatnya bagi saya.

Seiring perjalanan waktu, setelah membaca di berbagai buku dan media, saya baru menyadari ternyata menulis itu adalah kewajiban bagi :

siapapun yang ingin cerdas literasi,

siapapun yang ingin pikiran dan lisannya lebih tertata,

siapapun yang ingin menyembuhkan luka,

siapapun yang ingin mengasah, menjaga dan meningkatkan kapasitas otaknya,

siapapun yang bisa menebar manfaat dengan modal yang sangat minim,

Dan juga siapapun yang tak ingin hilang dari sejarah (seperti kata pak Pramodya Ananta Toer).



        Menulis itu adalah keharusan untuk siapa saja sebagai salah satu cara untuk meramu informasi yang dibaca dengan rasa, pemikiran dan pemahaman kita. Berangkat dari situlah saya mulai rajin menulis, menuliskan apa saja, yang penting menulis.

        Saya merasa dengan menulis, saya bisa menerapkan hadits, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (H.R. Bukhari).

        Seru bukan, bisa menjadi bermanfaat tanpa modal apapun kecuali terbiasa mengeraskan diri dan meluangkan waktu untuk membuka kerannya.
         Ya, menulis sesederhana seperti membuka keran air. Jika ingin menulis, caranya mudah. Tinggal buka alat untuk menulis bisa PC atau HP atau bahkan selembar kertas buram ataupun tisu, beserta sebuah pulpen. Lalu tuliskan saja, biarkan mengalir. Sadar-sadar sudah jadi sebuah tulisan.

        Jika dirasa airnya tak kunjung mengalir,berarti torentnya perlu diisi. Ketika tulisan tak kunjung tumpah, berati kita perlu membaca lebih banyak lagi. Umumnya bisa dilakukan dengan membaca buku, karena membaca buku akan memantik kita untuk menyuarakan pendapat.

        Selain itu jika tak sempat membaca buku, dengan membaca alam takambang pun bisa memicu kita untuk menulis. Maksudnya saat kita membaca apa yang ada disekitar kita, ini akan membuat diri kita lebih peka dengan sekitar. Ketika menjadi lebih peka, kita bisa merasakan apa yang ada di sekitar. Maka toren air ide pun akan terisi, ketika kerannya dibuka, tulisan pun akan mengalir. Nah, saat-saat air ide menulis ini mengalir lancar, inilah yang menjadi candu para penulis. Nikmat, sungguh!


        Namun, dengan kesibukan saya sebagai ibu purna waktu tanpa ada yang membantu. Jam terbang menulis saya melambat. Awalnya sehari satu tulisan kemudian berkurang jadi berhari-hari satu tulisan, bahkan pernah sebulan tak menulis sama sekali.



        Baru di tahun 2021 ini sejak si bungsu berusia 2 tahun, karena kesibukan saya sudah mulai bisa dicari celahnya, maka saya ingin mengasah lagi minat saya dalam kepenulisan. Sekalian menjadi penyalur 20.000 kata per hari, agar energinya mengalir ke tempat dan cara yang tepat. Sambil bergerak menuju hidup yang bermanfaat.



        Pertanyaan selanjutnya, selama ini saya hanya menulis sendiri tak ada yang mengarahkan, sudah saatnya saya butuh mentor yang menemani perjalanan 10000 jam saya. Tapi cari mentor dimana? Yang seperti apa? Saya tak punya bayangan.


            Entah bagaimana ceritanya, saat berjalan-jalan di Instagram, Allah membuat saya tersasar ke sebuah flyer kelas menulis yang diadakan oleh Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN). Ternyata IIDN sudah lama ada untuk mewadahi para ibu yang suka menulis. Wah, andai ya saya bertemu komunitas ini sejak dulu. Komunitas ini mewadahi ibu-ibu segala usia lho, usia berapapun yang penting masih bersemangat menulis dan berbagi.

        Judul kelas menulisnya seolah benar-benar menjawab kebutuhan saya yaitu, kelas "Nulis dari Nol". Sungguh cocok rasanya untuk saya yang memang benar-benar masih nol dalam menulis. Di sana tertulis mba Windyanti Yuliandari dan mba Fuatuttaqwiyah yang akan menjadi mentornya.

Saat itu saya belum kenal sama sekali dengan beliau berdua, belum pernah baca tulisannya juga.
Bismillah, saya pun terdaftar di kelas itu.

        Menulis bersama mba Wid membuat saya sadar kalau menulis itu bukan untuk niat apapun, bukan untuk niat mengutamakan ego atau keuntungan pribadi, tapi untuk bermakna dan bermanfaat.

        Di sini saya pun belajar, menulis bisa dimulai dari titik tersederhana dimana kita berada, menemukan ide tulisan dari apa yang dilihat, menarasikan apa yang dirasa, menceritakan apa yang didengar dan menjelaskan apa yang difikirkan dan diingat agar mudah dipahami pembaca.



        Hanya dengan mendeskripsikan lewat rangkaian kata saja tentang apa yang kita rasa dan hirup dari sebuah aroma, sudah bisa jadi tulisan yang berkualitas bahkan bisa menghasilkan rupiah, jika dikembangkan akan menjadi keahlian menulis ulasan parfum.

Ternyata menulis sesederhana dan senikmat itu!

        Langkah berikutnya setelah bisa menulis dengan lancar, adalah konsistensi dan jam terbang. Menurut para pakar, semakin konsisten dan semakin tinggi jam terbang menulis kita, seperti halnya bidang lain. Akan membuat otot kita semakin terlatih dan dengan sendirinya kualitas tulisan kita akan meningkat. Masalahnya, saya pribadi masih belum kuat hati untuk konsisten secara mandiri.



        Alhamdulillah, Allah selalu menjawab tanya yang belum sempat saya jadikan doa (ternyata benar kata ustadz : Rajin dzikir membuat kita selalu terkoneksi dengan Allah). Tiba-tiba salah satu postingan dari FBG Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) lewat di lini masa FB saya. Rasanya ajaib, kemaren-kemaren dicari-cari tidak ketemu.

        Jadilah saya berlatih konsistensi di KLIP. Luar biasa, dulu di tahun 2017 saya pertama kali bergabung, saya hanya bisa bertahan sampai bulan April, padahal saat itu baru diwajibkan menyetor 100 kata sehari.

        Tahun ini KLIP terus naik jumlah setoran katanya setiap per 3 bulan (mirip tagihan Listrik ya.hihi). Luar biasa, dengan pengaruh positif teman-teman disana, yang rata-rata setoran per harinya sudah 1000 kata (itupun dalam bentuk postingan rapi bukan draft) selalu membuat saya untuk ikut terus menulis, walau masih tetap saja baru sanggup 10 tulisan per bulan dengan sesekali lebih sedikit.

        Tapi saya mensyukuri ini, walau agak pontang panting juga menyesuaikannya dengan kesehariaan saya bersama anak-anak. Saya tetap merasa menang banyak karena bergabung di KLIP. Dengan sendirinya kemampuan setoran saya pun bisa mengikuti peningkatan jumlah kata setiap 3 bulan itu. Bahkan sekarang saya pun bisa mengetik 1000 kata dalam sekali menulis.

        Rasanya sungguh ajaib, semangat menulis peserta KLIP selalu menular pada saya. Ada kalanya saya malas tak ada mood sama sekali. Di KLIP saya menemukan obatnya, selain melakukan word vomit, yaitu : buka-buka setoran peserta lain, terutama yang konsisten 30 hari menulis tanpa putus. Dijamin tak akan bisa tidur sebelum menulis.



        Demikianlah alasan saya untuk terus menulis. Ingin menebar manfaat pada sesama dengan rangakaian kata yang mencoba mengikat makna.

        


Saya sangat bersyukur menemukan dua komunitas menulis ini yaitu IIDN dan KLIP. Saya tak suka bergabung dengan terlalu banyak komunitas. Bagi saya dua saja cukup, tapi esensial. Sedikit, tapi saya bisa fokus dan luar biasa berdampak.





#testimoniikutKLIP

#testimoniikutIIDN

#kelasnulisdarinol

#nulisbarengmbawid

#TTMKLIP

#TTMALASANKUATKUMENULIS

#ALIRANRASAKLIP2021





Posting Komentar

12 Komentar

  1. Sangat mengispirasi Mbak, untuk bisa terus rajin menulis itu terkadang memang ada saja hambatannya. Membaca tulisan ini membuat saya lebih semangat lagi untuk menulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Jadi inget dulu awal nulis di Blog, niatku pengen share pengalaman-pengalaman buruk yang didapat karena ulah sendiri, harapannya pengen bisa ngingetin orang supaya nggak ngelakuin hal buruk yamg udah pernah aku lakuin :D

    BalasHapus
  3. Masuk komunitas memang jadi salah satu cara jitu buat mengasah bakat menulis ya Mba. Selain bisa liat tulisan para penulis yg keren2 kita juga bisa belajar banyak dan saling sharing. Semangat menulis, Mbak! 🥰

    BalasHapus
  4. wah bener banget mba.. menulis itu moodly. Dengan adanya komunitas maka bisa menaikkan kualitas dankuantitas kita dalam menulis. trmksh mba.

    BalasHapus
  5. Sama mba, udah punya blog sejak 2012. Tapi masih seputar curhat dan kalau lagi gabut.
    Sejak tahun kemarin, mau jadi fulltime blogger cuma masih di mulut saja.
    Baru akhir tahun ini ikutan IIDN, menjadi lebih fokus dan ketemu komunitas blogger lainnya, jadi tahu banyak kekurangan..

    Gpp tetap semangat.. 💪💪💪

    BalasHapus
  6. Saya juga ngalamin, bergabung dengan komunitas memang sedikit banyak ngasi trigger buat kita konsisten menulis mbak, apalagi klo ada jadwal2 posting yg harus dipenuhi, asli bikin blog nggak pernah mangkrak deh. Terus juga jadi punya bahan buat belajar dari teman2 di komunitas, jd tau apa kekurangan qt, yekhaaaan???

    BalasHapus
  7. menulis emang seru ya mbak, tapi kalau tidak dibiasakan kadang kekurangan ide untuk nulis jadi sesuai mood aja nulisnya, tapi itu ternyata gak bagus buat blog, saat ini saya mencoba untuk buat blog plan harian biar lebih jelas aja mau mengerjakan apa di blog dan supaya kualitas tulisannya juga lebh baik, terimakasih sharing nya mbak, salam kenal saya juga blogger d obrolanku.com

    BalasHapus
  8. semangat terus mba nulisnyaaaa.... semoga makin banyak ide-ide untuk ditulisa dan makin bermanfaat buat yang baca semuanya. caiyooooo cemunguuuuuttthh

    BalasHapus
  9. Mari terus menulis mba, menyeimbangkan pikiran, mental lebih sehat, bermanfaat dan ilmu terus bertambah, moga istiqomah selalu mba

    BalasHapus
  10. Benar sekali, kak
    Saya jadi termotivasi menulis dan mengelola blog lebih baik setelah ikut komunitas, komunitas jadi bagian buat pengembangan diri sekali ya

    BalasHapus
  11. Ayo Uni... hari ini kita boleh setoran lagi! Yuk kejar badge emas hihiho

    BalasHapus