Agar Anak Biologis Tetap Menjadi Anak Ideologis






Hari ini, kemajuan zaman telah membuat hubungan antara orang tua dan anak semakin jauh.

Jika tidak disadari, kita hanya akan jadi orang tua yang sibuk mencari uang. Sedangkan di sela-sela kesibukan kita sibuk mencari hiburan dari dunia digital.


Mulai dari sekedar scrolling medsos, nonton berbagai aplikasi streaming, dan lain sebagainya. Semua hal tersebut tanoa kita sadari menyedot semua waktu luang kita sampai tak bersisa.


Kebiasaan hidup seperti itu, semakin hari membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi semakin renggang. 


Singkat cerita, semuanya, baik orang tua ataupun anak, semua sibuk dengan tugas dan kewajiban masing-masing. Saat ada waktu luang pun, bisanya kita akan sibuk dengan hiburan digital masing-masing. Hampir Tak ada lagi kesempatan untuk bercengkrama remeh temeh atau interaksi lain yang terlihat sepele tapi sangat memperkuat ikatan batin.


Kondisi ini membuat kesempatan untuk berkomunikasi secara santai dari hati ke hati kian mengecil.


Sudah biasa kita lihat, jaman sekarang, jika satu keluarga makan di warung atau restoran sekeluarga, durasi interaksi antar personal biasanya tak lebih dari sepuluh menit. 


Lebih dari sepuluh menit itu, semua akan sibuk dengan gawai masing-masing. Mulai dari kekek-nenek, ayah ibu sampai setiap anak, semuanya sibuk dengan gawai. Lengkap dengan tontonan atau kegiatan digital masing-masing.


Bersama tapi tak membersamai.

Berdekatan tapi tak terhubung.

Selalu bersama tapi ikatan batin kian renggang.


Sebenarnya ada banyak hal baik yang dulu lazim ada, jadi hilang dengan kondisi semua serba sibuk sendiri ini.


Tapi ada satu yang jarang dibicarakan atau ditulis.

 

Apa itu?

Transfer pemikiran dan ideologi.


Sebuah proses yang butuh banyak alur-alur cerita kesana kemari dengan durasi yang tak sebentar. Sebuah transfer yang membutuhkan fondasi bounding atau ikatan batin sangat kuat, yang dibangun dari bertahun-tahun interaksi tanpa ambisi dan penuh ketulusan serta kasih sayang.


Proses inilah yang mau tidak mau, jadi hilang dari keseharian kita, jika terlalu sibuk dengan dunia digital masing-masing.


Padahal kita butuh mentransfer ideologi pada anak-anak kita.


Kondisi ini, jika terus berlanjut, akan membuat anak-anak yang lahir dari keluarga kita, menjadi hanya sebatas anak biologis. Secara genetik merupakan penerus keturunan.


Namun mereka tak lagi menjadi anak ideologis kita. Secara pemikiran, anak-anak ini tak lagi mewarisi pemikiran-pemikiran serta idealisme kita yang berdasarkan pada nilai-nilai luhur kita dari generasi-generasi sebelumnya.


Kondisi ini mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai hal yang tidak terlalu penting untuk disorot. Mungkin ada sebagian yang berpendapat bahwa itu memang sudah zamannya. Biarkan saja anak-anak mengikuti zamannya.


Tapi, bagi saya pribadi, hal ini penting. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai yang dianut agama, adat istiadat dan berbagai nilai-nilai kebaikan yang sejak dulu diwariskan secara turun temurun oleh pendahulu pada kita.


Jika anak-anak kita lepas dan membiarkannya tumbuh tanpa sempat merasakan proses transfer ideologis. Tak tertutup kemungkinan, kelak mereka akan benar-benar menjadi generasi yang bebas nilai. Semua hal yang tadinya dilarang, menjadi dibebaskan asal tak mengganggu orang lain.


Selain itu, hilangnya kesempatan untuk menularkan ideologi ini juga akan membuat anak kita cenderung jadi pribadi yang terwarnai.



Ketika berada di luar rumah, sebaiknya jika anak kita tak bisa jadi pewarna, setidaknya ia harus punya dan tahu warna dirinya sendiri. Agar ia menjadi pewarna bagi tempat nya berada.


Jika pun tak bisa mewarnai sekelilingnya, setidaknya anak kita tetap kukuh dengan warnanya sendiri.


Nilai-nilai dan ideologi warisan dari orang tua, adat istiadat dan berbagai nilai-nilai luhur dan kebaikan dari para leluhur inilah yang menjadikan anak kita memiliki warnanya sendiri.


Warna yang membuatnya tahu siapa dirinya. Anak jadi tahu harus bagaimana bersikap agar tetap kuat saat menghadapi berbagai pengaruh warna dari luar dirinya.


Bukan sebaliknya malah jadi berubah warna. Hingga akhirnya kehilangan jati diri dan nilai-nilai yang dianutnya. Akhirnya warna dari para pendahulunya menjadi terhapus, tenggelam dan lenyap dari dirinya.


Lalu apa yang perlu kita lakukan agar anak-anak biologis kita tetap menjadi anak ideologis?


1. Mengurangi interaksi dunia digital 

Kemajuan zaman membuat waktu untuk berinteraksi semakin sempit. Dimana interaksi merupakan jalan masuk utama transfer pemikiran dan berbagai nilai-nilai ideologi. Yang perlu kita lakukan adalah sedikit menepi dari berbagai kesibukan dunia digital.


2. Menyediakan ruang dan waktu khusus untuk berinteraksi luring dengan anak-anak.


Menyisihkan 15 menit sehari untuk sekedar berinteraksi remeh temeh, membahas hal-hal yang terlihat tak penting, akan bisa menjadi solusi.


Sekalipun hal yang dibahas bukan hal penting. Sebuah interaksi yang dilakukan dengan hadir secara utuh dimana pikiran dan fisik menyatu tak melayang-layang. Akan memberikan hasil yang signifikan dalam memperkuat bounding dengan anak.


Sesederhana mengobrol santai tanpa maksud dan target apapun, fokus ingin membentuk ikatan batin yang amat kuat.

Tak bisa dipungkiri hal ini sedikit banyak akan membuat nilai-nilai yang ingin kita sampaikan, diterima dari diterapkan sebagai prinsip hidup oleh sang anak.


Momen-momen seperti ini akan membuat anak menyerap nilai-nilai yang ada pada diri maupun pendahulu kita.


3. Usahakan untuk memiliki lebih banyak momen kebersamaan.


Nilai-nilai itu sebagian besar diwariskan dengan cara ditularkan, selain dengan mengobrol. 

Saat anak melihat kita mempraktekkan langsung nilai-nilai yang ingin kita wariskan, saat itu jugalah anak menyerapnya.


Semakin sering bersama, semakin banyak kesempatan anak untuk tertular dan menyerapnya.


4. Abadikan dan sampaikan nilai-nilai tersebut dalam bentuk tulisan.


Tulisan akan memperpanjang usia pemikiran penulisnya. Sekalipun penulisnya telah berpuluh puluh tahun meninggal. Sebuah tulisan, akan terus menularkan nilai-nilai bahkan mengobarkan semangat pada orang-orang yang membacanya kemudian.


Dengan menulis tentang nilai-nilai keluarga yang kita anut, anak menjadi tahu tentang benrbagai pemikiran kita.


Semoga dengan melakukan hal-hal sederhana di atas, kita tetap bisa menjadikan anak biologis kita, menjadi anak ideologis. Anak-anak yang tak sekedar mewarisi sifat genetik orang tua dan leluhurnya. Tetapi juga anak-anak yang mewarisi nilai-nilai luhur yang dianut oleh orang tua dan leluhurnya.


Menurut Anda, apa lagi yang perlu dan bisa kita lakukan agar anak-anak tetap menjadi anak-anak ideologis kita?


Padang, dini hari.


23 Januari 2022.








Posting Komentar

0 Komentar